Blog & Artikel
Kumpulan artikel, tips, dan panduan praktis seputar tumbuh kembang anak, terapi okupasi, wicara, perilaku, dan pola makan. Ditulis oleh tim terapis Okiro untuk membantu orang tua memahami dan mendukung anak di rumah.
Sensory Berjalan Jinjit (Toe Walking)
Perilaku Sensorik Jalan Berjinjit Pada Anak (Toe Walking in Kids)
Perilaku jalan berjinjit pada anak adalah hal yang seringkali ditanyakan oleh banyak orang tua kepada kami selama bertahun-tahun
sebagai terapis okupasi.
Banyak orang tua merasa khawatir saat melihat anaknya berjalan jinjit. Tapi, jangan khawatir, Ayah dan Bunda tidak sendirian, kok.
Fenomena ini cukup sering terjadi pada anak dan frekuensi anak berjalan dengan jinjit juga meningkat setiap tahunnya. Meski terlihat membingungkan,
biasanya ada alasan sensorik yang sangat logis di baliknya.
Sama seperti ciri perkembangan anak lainnya, kebiasaan jalan berjinjit punya rentang yang sangat luas. Ada yang memang hanya bagian dari
fase belajar jalan (normal), tapi ada juga yang menjadi tanda bahwa si kecil butuh bantuan khusus.
Wajar sekali jika Ayah dan Bunda merasa bingung dan bertanya-tanya:
"Anak saya berjinjit karena masalah sensorik atau ada penyebab lain ya?" atau "Ini kebiasaan yang perlu dikhawatirkan tidak, sih?"
Dalam artikel ini, kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mengeksplorasi:
- Komponen sensorik besar yang sering terlewatkan dalam kondisi jalan berjinjit.
- Mengapa beberapa anak berjalan dengan jari kaki mereka.
- Hubungan antara jalan berjinjit dengan Gangguan Pemrosesan Sensorik (Sensory Processing Disorder).
- Apa yang harus dilakukan saat si kecil berjalan berjinjit.
Apa itu Jalan Berjinjit?
Pola berjalan yang tipikal atau umumnya adalah seperti berjalan dengan pola kursi goyang yaitu tumit menyentuh permukaan tanah
terlebih dahulu, diikuti oleh bagian tengah kaki, lalu jari kaki yang mendorong tubuh seseorang maju ke langkah berikutnya.
Pada anak yang jalan berjinjit, mereka langsung mendarat dengan bagian depan kaki. Tumitnya tetap melayang dan mereka terus melangkah menggunakan
ujung kaki tersebut.
Ketika seorang anak berjalan berjinjit, mereka meletakkan sebagian besar beban mereka pada bagian depan kaki (ball of the foot), dan alih-alih bergulir
dari tumit ke jari kaki, mereka akan mengambil langkah berikutnya langsung pada bagian depan kaki dan jari-jari kaki.
Tiap anak punya "gaya" berjinjit yang berbeda-beda. Ada yang hanya sesekali melakukannya saat sedang bersemangat, ada juga yang jinjitnya sangat tinggi
sampai tumitnya benar-benar melayang jauh dari lantai. Selama kebiasaan ini muncul terus-menerus dan menjadi pola jalan utama mereka, maka inilah yang
kita sebut sebagai perilaku toe walking.
Bahkan pada beberapa kasus yang cukup ekstrim, ada anak yang berjalan menggunakan punggung kaki dengan jari-jari yang menekuk ke dalam
(seperti melipat jari kaki). Namun, dalam pembahasan kita kali ini, kita akan lebih fokus pada posisi yang paling sering ditemui yaitu ketika
si kecil berjalan bertumpu pada bagian depan telapak kaki (bantalan di bawah jemari), sementara tumitnya tetap terangkat dan tidak menyentuh lantai.
Kapan Jalan Berjinjit Dianggap Normal?
Ini adalah pertanyaan yang membuat banyak orang tua bingung, karena sulit untuk menentukan apakah jalan berjinjit seorang anak dianggap
normal secara perkembangan atau tidak.
Anak yang mengalami sensory food aversion, biasanya pilihan makanan yang dimakan sangat terbatas. Kurangnya variasi makanan dapat menyebabkan
anak mengalami kekurangan gizi. Selain risiko kekurangan gizi, hal ini juga dapat berdampak negatif pada waktu makan bersama keluarga.
Bagaimana kondisi ini berpengaruh dengan waktu makan bersama keluarga?
Saat masih bayi atau balita, si kecil ibarat seorang penjelajah yang sedang melakukan banyak "eksperimen". Sambil belajar merangkak, berdiri,
berjalan, hingga berlari, mereka akan mencoba berbagai macam gerakan untuk mencari keseimbangan. Nah, berjalan berjinjit adalah salah satu variasi
gerakan yang sering mereka coba-coba dalam proses belajar ini. Jadi, di tahap awal perkembangan anak, jalan berjinjit biasanya masih dianggap wajar.
Ketika anak sudah melewati tahap balita namun masih berjalan berjinjit, atau mengalami peningkatan jalan berjinjit pada/setelah tahap ini
(terkadang disebut jalan berjinjit persisten), hal itu sudah dianggap tidak lagi tipikal (normal) secara perkembangan. Biasanya sebagian besar
dokter serta terapis akan mencoba menentukan diagnosa mengapa anak tersebut berjalan berjinjit.
Mengapa Anak Berjalan Berjinjit?
Jalan berjinjit tanpa alasan yang didiagnosis atau dipahami disebut "jalan berjinjit idiopatik" yang berarti dimulai tanpa alasan yang jelas atau
kondisi yang mendasari.
Namun, ada banyak penyebab potensial mengapa seorang anak berjalan berjinjit meski sudah melewati tahap balita yaitu:
- Kelemahan Otot
- Pencernaan
- Refleks yang Menetap (Retained Reflex)
- Pemrosesan Sensorik
Penyebab pertama adalah anak tersebut memiliki kelemahan otot yang mendasari atau kondisi neurologis yang mempengaruhi kekuatan, koordinasi, atau mobilitas seperti cerebral palsy, distrofi otot duchenne, atau kesulitan motorik dan keseimbangan yang tidak spesifik. Dalam kasus ini, ada alasan biologis atau anatomis, seperti kekakuan pada otot gluteus, tendon achilles, atau otot betis.
Beberapa penelitian menunjukkan korelasi antara fungsi pencernaan (gastrointestinal) dan jalan berjinjit, di mana anak naik ke ujung kaki karena kontraksi perut dan gluteus. Selain itu, komponen genetik juga dicurigai karena perilaku ini sering terlihat dalam pola keluarga.
Jalan berjinjit dapat dikaitkan dengan refleks primitif yang menetap, khususnya Tonic Labyrinthine Reflex (TLR) atau refleks plantar. Refleks ini berdampak pada koordinasi, keseimbangan, tonus otot, dan pemrosesan sensorik anak.
Sebagai seorang Terapis Okupasi (OT), alasan paling umum yang saya temui adalah karena pemrosesan sensorik mereka. Sensorik bukanlah masalah hitam-putih, ada banyak cara sistem sensorik yang memicu anak untuk jalan jinjit.
Hubungan dengan Pemrosesan Sensorik
Anak yang berjalan berjinjit bisa jadi memproses sebuah sensasi secara berlebihan (over-process) atau kurang (under-process).
- Mencari Input Sensorik (Sensory Seeker)
- Registrasi Rendah (Low Registration)
- Input Vestibular
- Menghindari Input Sensorik (Sensory Avoider)
Berjalan berjinjit menekan sendi-sendi jari kaki, kaki, dan tungkai yang memberikan input proprioseptif (kesadaran tubuh) yang kuat pada anak. Mereka menyukai sensasi ini sehingga akan terus melakukannya.
Anak yang memiliki kesadaran tubuh yang buruk mungkin perlu berjinjit karena dengan adanya tekanan di kakinya dapat memberikan informasi yang lebih jelas tentang posisi mereka terhadap lantai. Tanpa melakukan itu, mereka mungkin akan sering tersandung atau menabrak benda.
Berdiri atau berjalan di ujung jari kaki membuat tubuh menjadi sengaja "oleng" atau tidak seimbang. Bagi kita orang dewasa, rasa tidak seimbang mungkin akan terasa tidak nyaman. Tapi bagi anak yang memang seorang sensory seeker, sensasi tidak seimbang ini justru terasa sangat seru. Dengan mereka berjinjit, membuat sistem vestibular (pusat keseimbangan di telinga dalam) mereka bekerja ekstra keras sehingga memberikan stimulasi yang sama kuatnya dengan saat mereka asyik berputar-putar, berayun di ayunan, atau jungkir balik. Jadi, bisa dibilang jalan berjinjit adalah cara "instan" mereka untuk mendapatkan sensasi gerakan yang menyenangkan bagi otak mereka.
Beberapa anak berjinjit untuk menghindari sensasi terhadap tekstur tertentu yang mengenai kaki mereka. Mereka berjinjit untuk meminimalkan area permukaan kaki yang menyentuh benda dengan tekstur tertentu karena mereka merasa risih/geli.
Apakah Jalan Berjinjit Berarti Anak Mengalami Autisme atau SPD?
Ini adalah pertanyaan yang paling sering membuat orang tua merasa cemas. Saat melihat si kecil sering berjalan berjinjit,
pikiran kita mungkin langsung melayang ke diagnosis seperti Autisme, ADHD, atau Sensory Processing Disorder (SPD).
Namun, Ayah dan Bunda bisa sedikit bernafas lega. Munculnya "red flags" seperti jalan berjinjit tidak secara otomatis membuat si kecil memiliki
kondisi tersebut. Jalan berjinjit hanyalah satu potongan kecil dari teka-teki perkembangan anak yang sangat besar.
Memang benar bahwa anak-anak dengan diagnosis Autisme atau SPD seringkali berjalan berjinjit. Alasannya adalah karena mereka memiliki sistem
sensorik yang sangat sensitif atau justru malah kurang sensitif. Oleh karena itu, bagi mereka yang sudah
memiliki diagnosis tersebut, jalan berjinjit biasanya merupakan cara tubuh mereka merespons kesulitan ketika mendapatkan informasi sensorik.
Apa Langkah Terbaik untuk Ayah dan Bunda?
Tidak perlu mendiagnosis sendiri di rumah, ya. Jika merasa khawatir karena kebiasaan berjinjit si kecil, serta apabila kebiasaan tersebut sudah mulai mempengaruhi aktivitas sehari-harinya, maka langkah paling bijak yang bisa dilakukan adalah:
- Konsultasi ke Dokter Anak: Ceritakan pola jalan si kecil secara detail.
- Minta Rujukan ke Terapis Okupasi (OT): Terapis okupasi adalah ahlinya dalam urusan sensorik. Mereka bisa membantu mengevaluasi apakah jalan berjinjit si kecil memang karena kebutuhan sensorik atau hal lain, sekaligus memberikan latihan yang tepat.
Akankah Anak Saya Berhenti Berjinjit dengan Sendirinya?
Berjalan berjinjit dalam jangka panjang dapat berdampak negatif pada struktur otot kaki, pergelangan kaki, tungkai, bahkan mempengaruhi panggul dan punggung si kecil. Meskipun banyak anak yang akan berhenti melakukannya seiring bertambahnya usia, namun tidak semuanya demikian. Menunggu tanpa tindakan bisa menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan fisik mereka, bukan?
Strategi Sensorik untuk Membantu di Rumah
1. Untuk Pencari Sensorik (Sensory Seekers):
- Biarkan anak terlibat dalam aktivitas seperti menari, senam, atau berenang yang meningkatkan gerakan dan koordinasi.
- Gunakan kompresi sendi (joint compressions) untuk memberikan masukan proprioseptif langsung ke sendi secara cepat.
2. Untuk Penghindar Sensorik (Sensory Avoiders): Tujuannya adalah desensitisasi (mengurangi sensitivitas).
- Gunakan Sensory Bins: Biarkan anak memasukkan kaki telanjang mereka ke dalam wadah berisi beras atau kacang-kacangan untuk membiasakan kaki dengan tekstur.
- Pijat lembut atau sikat halus pada kaki. Untuk anak yang sangat sensitif, mulailah lakukan di atas kaus kaki.
- Coba berbagai jenis kaus kaki dan sepatu. Terkadang sepatu dengan sol kaku atau sepatu bot yang menutup pergelangan kaki dapat membantu memperbaiki pola jalan.
3. Untuk Registrasi Rendah (Low Registration):
- Latih "pemetaan tubuh" (body mapping) dan berikan instruksi verbal agar mereka berjalan dengan pola tumit-jari kaki.
- Berikan input proprioseptif (seperti melompat atau animal walks) sebelum berlatih jalan dari tumit-ke-jari.
- Gunakan alat peraga seperti bubble wrap atau kertas yang diremas untuk diinjak, untuk memberikan input suara (auditori) yang menarik perhatian anak saat mengenai kaki mereka.
Catatan Penting: Dalam kasus yang lebih parah di mana otot atau postur anak sudah terpengaruh, terapis mungkin merekomendasikan pendekatan yang lebih ekstrim seperti pemasangan gips berulang (serial casting), intervensi bedah, atau penggunaan penyangga kaki (ankle-foot orthosis). Ini jarang terjadi dan hanya dilakukan jika intervensi lain tidak berhasil.
Ada Pertanyaan tentang artikel diatas?
Jika ada bagian dari artikel diatas yang kurang jelas, tim Okiro siap membantu menjelaskan.
Hubungi kami