Blog & Artikel
Kumpulan artikel, tips, dan panduan praktis seputar tumbuh kembang anak, terapi okupasi, wicara, perilaku, dan pola makan. Ditulis oleh tim terapis Okiro untuk membantu orang tua memahami dan mendukung anak di rumah.
Sensory Food Aversion
Latar Belakang
Banyak orang memandang negatif tentang anak yang gemar pilih-pilih makanan (picky eater). Tapi, bagaimana jika yang sebenarnya
terjadi adalah adanya masalah pada sensori (indera perasa) anak yang tidak kita sadari. Masalah sensori ini biasa disebut
sensory food aversion.
Sensory food aversion terjadi ketika anak menolak makan makanan tertentu, bukan karena mereka belum cukup umur atau belum siap makan makanan tersebut,
melainkan karena indera mereka (seperti rasa, bau, atau tekstur makanan) membuat mereka merasa tidak nyaman atau terganggu.
Pernahkah anda bertanya-tanya, apakah kebiasaan anak anda yang suka menolak makanan bisa jadi merupakan tanda adanya masalah sensori?
Apa Itu Sensory Food Aversion?
Sensory food aversion merupakan kondisi ketika anak menolak makan makanan tertentu yang disajikan meskipun secara tahapan perkembangan
dia sudah siap untuk mengkonsumsinya.
Sensory food aversion juga bisa didefinisikan sebagai reaksi berlebihan dari indera terhadap jenis makanan tertentu. Kondisi ini sering terlihat
pada anak-anak yang kita kenal sebagai “picky eater” atau pilih-pilih makanan. Intinya, hal ini terjadi ketika makanan tertentu memberikan rangsangan
yang terlalu kuat bagi indera anak, sehingga membuat mereka merasa sangat tidak nyaman untuk mengkonsumsinya.
Anak dengan gangguan pemrosesan sensori dapat terlihat dari respon fisik/motoriknya saat diminta makan makanan tertentu. Contohnya:
- Ingin muntah hanya karena membayangkan makan sereal yang lembek.
- Merasa takut atau ragu-ragu saat menyentuh mentimun yang renyah.
- Tidak bisa bergerak (seperti kaku atau membeku) sampai semangkuk yogurt yang teksturnya lembek dan licin disingkirkan dari pandangannya.
Sebagai orangtua, penting untuk menyadari adanya masalah sensorik yang terjadi pada anak dan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi dinamika keluarga secara keseluruhan.
Tantangan Pada Anak yang Memiliki Masalah Pemrosesan Sensory (Sensory Processing Issues)
Meskipun sebagian besar anak di bawah usia 5 tahun akan mengalami fase pilih-pilih makanan, namun anak-anak yang memiliki
reaksi sensorik berlebihan terhadap makanan tertentu beresiko mendatangkan banyak masalah perkembangan yang akan dihadapi kedepannya.
Anak yang mengalami sensory food aversion, biasanya pilihan makanan yang dimakan sangat terbatas. Kurangnya variasi makanan dapat menyebabkan
anak mengalami kekurangan gizi. Selain risiko kekurangan gizi, hal ini juga dapat berdampak negatif pada waktu makan bersama keluarga.
Bagaimana kondisi ini berpengaruh dengan waktu makan bersama keluarga?
Menurut penelitian dari Harvard, makan bersama setidaknya satu kali sehari (biasanya saat makan malam) sangat penting untuk membangun
hubungan emosional antar anggota keluarga bahkan sejak anak masih balita. Namun apabila waktu makan sering terganggu hanya karena anak susah makan,
maka manfaat dari makan bersama itu jadi berkurang.
Makanan merupakan komponen esensial bagi hidup kita karena dapat memberikan energi, dan energi ini sangat dibutuhkan untuk anak-anak terutama
pada balita.
Sebelum usia 5 tahun, sebagian besar perkembangan seseorang dilakukan dengan banyak melakukan aktivitas fisik seperti melompat, berlari,
bermain selama berjam-jam. Jika anak menolak makan, tentunya energi yang dihasilkan pun minim sehingga dapat menghambat kemampuannya
untuk berkembang. Secara statistik, balita membutuhkan banyak makan-makanan yang bergizi agar bisa aktif dan dapat menguasai semua gerakan
yang diperlukan sehingga mampu mencapai tonggak perkembangan awal.
Tonggak perkembangan awal adalah keterampilan atau perilaku yang diharapkan akan mulai atau dikuasai oleh sebagian besar anak pada usia tertentu.
Contoh: anak di usia 3 tahun idealnya sudah mampu untuk melakukan aktivitas seperti memanjat, melompat, naik dan turun tangga dengan kaki bergantian,
menendang, melempar, menangkap bola, menggunakan garpu, merangkai manik-manik berukuran besar, dan membantu melepas pakaian.
Meskipun terdapat dampak negatif dari kebiasaan pilih-pilih makanan, kabar baiknya adalah masih ada banyak cara dan sumber informasi yang
bisa membantu kita mengenalkan makanan baru kepada anak. Anda tidak perlu khawatir dan hanya berfokus pada konsekuensi negatif dari kebiasaan
pilih-pilih makanan ini, masih ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan makanan baru pada anak.
Cara Memperkenalkan Makanan Baru Pada Anak yang Suka Pilih-Pilih
Apabila anak memiliki masalah sensori (sensitivitas terhadap rasa, tekstur, atau bau makanan), poin penting saat memperkenalkan makanan baru adalah sebisa mungkin tidak membuat anak takut terhadap proses yang akan dicoba. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan:
- Kenali jenis makanan yang membuat anak tidak suka, terutama tekstur makanan.
- Buat waktu makan yang teratur.
- Pastikan setiap anggota keluarga makan makanan yang mereka suka.
- Sabar adalah kunci.
- Coba berbagai cara agar anak bisa terbiasa dengan makanan baru.
Jenis makanan apa yang dapat memicu anak merespon berlebihan? Apakah jenis makanan renyah atau mungkin makanan lembek yang menyebabkan reaksi berlebihan?
Usahakan anak tetap makan di jam yang sama setidaknya dengan satu jenis makanan yang disuka. Ini bisa membuat anak lebih tenang saat makan.
Ketika dalam sebuah keluarga terdapat salah satu anak yang mengalami masalah makan, hal ini akan memengaruhi suasana saat makan bersama. Pastikan ketika makan bersama, semua orang makan makanan yang mereka bisa nikmati. Salah satu trik yang dapat dilakukan untuk mengatasi ini adalah sajikan papan charcuterie (ini papan buat piring seperti orang perancis, jadi dalam 1 piring/plate ada banyak jenis makanan) yang diisi dengan berbagai jenis makanan agar semua orang dapat menikmati makanan yang mereka inginkan.
Cobalah melihat masalah makan bukan sebagai bentuk penolakan atau drama yang sengaja dibuat oleh anak, namun lebih sebagai karena adanya hambatan terkait kontrol otot area mulut anak. Banyak orang, umumnya anak-anak, mengalami kesulitan makan bukan karena mereka tidak mau, tapi karena sistem sensorik-motoriknya belum siap. Sistem ini bisa membuat tubuh merasa tidak nyaman atau bahkan menolak tekstur atau rasa baru meskipun secara logika tahu bahwa makanan itu tidak membahayakan. Sehingga, penting bagi kita untuk lebih sabar dan memahami bahwa ini adalah proses, bukan bentuk perlawanan yang dilakukan anak.
Food Chaining
Salah satu strategi populer yang dikembangkan oleh terapis okupasi (OT) untuk permasalahan sensorik melibatkan makanan adalah metode
Food Chaining. Food chaining membantu anak-anak yang gemar pilih-pilih makanan (picky eaters) memperluas variasi makanan mereka
secara bertahap dengan memperkenalkan makanan baru yang memiliki kemiripan dengan makanan yang sudah mereka sukai.
Food chaining dilakukan dengan memulai dari makanan yang sudah disukai dan diterima anak, misalnya buah pir. Mulailah dengan pir dalam bentuk yang
biasa mereka makan lalu secara bertahap mengganti cara penyajian pir tersebut. Semakin anak dilibatkan dalam proses ini, maka akan semakin mudah
bagi mereka menerima perubahan.
Contoh:
Jika anak biasanya sehari-hari suka makan buah pir utuh, kamu bisa mulai dengan memotongnya menjadi beberapa bagian dan menunjukkan pada anak bahwa
rasanya tetap sama—hal ini merupakan bentuk melibatkan anak dalam proses pengenalan makanan. Lalu bertahap, kamu coba memotongnya dengan bentuk lain,
seperti potongan kecil-kecil (dipotong seperti dadu). Setelah itu lakukan lagi secara bertahap dengan mencoba merk pir yang berbeda dari biasanya
dan mungkin bisa mengganti pir menjadi jus pir.
Tujuan dari food chaining adalah menunjukkan bahwa jenis makanan tertentu rasanya sama, terlepas dari bentuknya. Setelah anak mulai menerima variasi
dari satu jenis makanan (dalam kasus di atas adalah buah pir), maka kamu bisa mulai mencampurkannya dengan makanan lain misalnya, potongan pir dimakan
bersama keju cheddar.
Contoh lain dari food chaining:
- Dari makan kentang goreng bertahap menjadi makan kentang tumbuk lalu bertahap menjadi kentang panggang.
- Dari kebiasaan makan nugget ayam bertahap menjadi makan paha ayam lalu makan dada ayam panggang.
- Dari makan keripik pisang bundar (potongan melingkar) bertahap hingga keripik pisang potongan memanjang.
Mengenalkan Makanan Baru dan Masalah Sensori pada Anak
Setelah berhasil dengan food chaining (mengenalkan makanan baru secara bertahap), langkah berikutnya yang dapat dilakukan adalah
food pairing atau menggabungkan makanan untuk memperluas pengalaman makan anak. Silakan pikirkan makanan favorit anda! biasanya terdiri
dari campuran beberapa rasa, kan? Nah, tujuan dari food pairing ini adalah agar anak terbiasa dengan kombinasi rasa yang berbeda.
Contoh:
Kalau anak suka roti isi selai kacang, coba tambahkan irisan pisang di atasnya atau coba sajikan bersama segelas susu.
Menurut penelitian dari Rumah Sakit Arnold Palmer di Orlando, Amerika, dibutuhkan sampai lebih dari 100 kali percobaan agar anak bisa menerima makanan
baru, sehingga proses mengenalkan makanan ini pun juga memerlukan percobaan yang lebih sering dan tentunya kesabaran.
Berikut beberapa contoh cara memperkenalkan makanan (food exposure):
- Sajikan salad dalam mangkuk bening (ini dilakukan agar anak bisa melihat isi dari mangkuk tanpa merasa terancam)
- Tambahkan 1–2 irisan kecil mentimun di piring mereka (bisa dipotong dengan cetakan berbentuk lucu agar anak tertarik).
- Gunakan makanan dalam kegiatan yang melibatkan kreativitas, misalnya kentang dipotong-potong lalu diberi pewarna dan digunakan sebagai cap atau stempel.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Cara-Cara Sebelumnya Tidak Berhasil?
Pada kasus anak yang sangat pilih-pilih makanan, kami tahu rasanya seperti perjuangan yang tidak ada habisnya. Dalam sehari, anak perlu makan beberapa kali sedangkan kegiatan makan bisa jadi akan selalu berisikan tangisan, teriakan atau kesulitan lainnya, situasi ini terasa sangat melelahkan bila dilakukan setiap hari. Kalau cara-cara yang sudah dijelaskan sebelumnya tidak berhasil, berikut beberapa langkah lain yang bisa dicoba:
- Konsultasikan dengan terapis okupasi, yaitu ahli yang bisa membantu anda menggunakan metode food chaining secara lebih terstruktur dan terarah.
- Cari saran medis. Sistem sensorik yang sangat sensitif bisa jadi salah satu tanda anak berada dalam spektrum autisme. Anda bisa membicarakannya dengan dokter anak saat pemeriksaan rutin untuk tahu lebih lanjut tentang proses evaluasinya.
- Periksa apakah anak punya alergi makanan. Terkadang penolakan terhadap makanan bisa disebabkan oleh alergi.
- Jika anak juga sering mengalami emosi yang meledak-ledak, anda bisa mencari tahu tentang aktivitas yang bisa membantu anak mengatur emosinya.
Selalu bicarakan dengan ahli jika anda punya kekhawatiran tentang kebiasaan makan anak. Mereka bisa membantu mencari tahu penyebab dan memberi arahan yang tepat.
Penutup
Mengurus anak yang sangat pilih-pilih makanan sering kali membuat stres dan hampir menyerah. Rasanya seperti setiap kali melakukan
rutinitas makan akan berakhir dengan teriakan, tangisan, amukan, atau bahkan mungkin membuat anda berpikir bahwa anak tidak akan mau
makan lagi.
Hanya saja, penting bagi kita untuk menghargai setiap kemajuan anak sekecil apa pun itu. Jangan lupa puji anak saat dia mau mencoba makanan baru,
bentuk makanan baru, atau tekstur yang berbeda.
Bagi anak dengan masalah sensori, langkah kecil adalah pencapaian besar. Misal, kalau biasanya dia hanya mau makan kacang almond lalu hari ini
dia tidak marah saat di piringnya ada almond dan sepotong keju, itu sudah termasuk kemajuan yang luar biasa. Rayakan setiap langkah kecil
yang anak lakukan, lakukan perlahan tidak terburu-buru, dan selalu konsultasikan dengan ahli jika anda punya kekhawatiran atau pertanyaan lainnya.
Ada Pertanyaan tentang artikel diatas?
Jika ada bagian dari artikel diatas yang kurang jelas, tim Okiro siap membantu menjelaskan.
Hubungi kami