Blog & Artikel
Kumpulan artikel, tips, dan panduan praktis seputar tumbuh kembang anak, terapi okupasi, wicara, perilaku, dan pola makan. Ditulis oleh tim terapis Okiro untuk membantu orang tua memahami dan mendukung anak di rumah.
Speech Delay pada Anak: Apa yang Sebenarnya Menghambat Perkembangan Bicaranya?
Apa Itu Speech Delay?
Setiap orang tua tentu menantikan momen ketika anak mulai mengucapkan kata pertamanya. Mulai dari memanggil “Mama” atau “Papa”, menyebut nama benda yang disukai, hingga akhirnya mampu mengungkapkan keinginan melalui kalimat sederhana.
Namun, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa setiap anak tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama.
Ada anak yang mulai banyak berbicara sesuai tahapan perkembangannya, tetapi ada pula anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan kemampuan komunikasi. Kondisi keterlambatan dalam perkembangan bicara atau bahasa sering dikenal oleh masyarakat dengan istilah speech delay.
Secara umum, keterlambatan bicara dan bahasa terjadi ketika kemampuan komunikasi anak berkembang lebih lambat dibandingkan kemampuan yang diharapkan berdasarkan usia dan tahap perkembangannya.
Dalam literatur profesional, istilah Late Language Emergence (LLE) digunakan untuk menggambarkan keterlambatan munculnya kemampuan bahasa pada anak usia dini tanpa adanya diagnosis disabilitas atau keterlambatan perkembangan lain yang telah diketahui.[1]
Anak yang mengalami keterlambatan bicara atau bahasa dapat menunjukkan beberapa kondisi, misalnya:
- Kosakata yang masih terbatas.
- Belum mampu menggabungkan kata sesuai tahapan usianya.
- Kesulitan mengungkapkan keinginan melalui kata-kata.
- Sulit memahami instruksi tertentu.
- Pengucapan kata yang sulit dipahami.
- Lebih sering menggunakan gestur daripada kata-kata untuk berkomunikasi.
Namun, penting dipahami bahwa speech delay bukanlah kondisi yang selalu memiliki satu penyebab yang sama pada setiap anak.
Keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, pemeriksaan perlu melihat perkembangan anak secara menyeluruh.
Beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap masalah bicara dan bahasa antara lain kondisi struktur dan fungsi oral, perkembangan neurologis dan kognitif, kemampuan pendengaran, lingkungan komunikasi, serta pola penggunaan media digital atau screen time.
Bicara dan Bahasa Ternyata Berbeda
Sebelum memahami speech delay lebih jauh, orang tua perlu mengetahui bahwa bicara (speech) dan bahasa (language) sebenarnya merupakan dua kemampuan yang berbeda tetapi saling berhubungan.
Apa Itu Bicara atau Speech?
Bicara berkaitan dengan kemampuan menghasilkan bunyi sehingga seseorang dapat mengucapkan kata secara jelas.
Proses berbicara membutuhkan koordinasi berbagai sistem dan organ, termasuk:
- Pernapasan.
- Suara.
- Lidah.
- Bibir.
- Rahang.
- Langit-langit mulut.
- Koordinasi gerakan yang diperlukan untuk menghasilkan bunyi bicara.
Jika terdapat gangguan pada salah satu komponen tersebut, kemampuan anak dalam menghasilkan bunyi bicara dapat ikut terpengaruh.
Apa Itu Bahasa atau Language?
Bahasa memiliki cakupan yang lebih luas.
Bahasa berkaitan dengan kemampuan anak untuk memahami dan menggunakan kata, kalimat, gestur, serta simbol untuk berkomunikasi.
Secara sederhana, kemampuan bahasa dapat dibagi menjadi:
Bahasa reseptif, yaitu kemampuan memahami bahasa yang diterima.
Contohnya ketika anak mampu memahami instruksi seperti:
“Ambil bolanya.”
“Taruh sepatu di sini.”
atau:
“Mana kucingnya?”
Bahasa ekspresif adalah kemampuan menggunakan bahasa untuk menyampaikan keinginan, pikiran, kebutuhan, atau perasaan.
Karena itu, ketika seorang anak mengalami keterlambatan komunikasi, pemeriksaan tidak hanya melihat berapa banyak kata yang sudah dapat diucapkan, tetapi juga bagaimana anak memahami bahasa dan menggunakan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.[1]
Apa Penyebab Speech Delay pada Anak?
Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua anak dengan speech delay.
Pada sebagian anak, keterlambatan dapat berhubungan dengan kemampuan produksi bicara. Pada anak lain, masalah dapat berkaitan dengan perkembangan bahasa, pendengaran, perkembangan neurologis, atau kondisi perkembangan lainnya.
Lingkungan tempat anak tumbuh dan kesempatan untuk melakukan komunikasi dua arah juga memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa.
Berikut beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
1. Faktor Struktur dan Fungsi Oral
Berbicara merupakan proses yang kompleks.
Untuk menghasilkan suara dan kata dengan jelas, anak membutuhkan koordinasi berbagai organ dan fungsi yang terlibat dalam proses bicara.
Bagian tubuh yang berperan dalam proses tersebut antara lain:
- Gigi.
- Rahang.
- Lidah.
- Bibir.
- Struktur penghasil suara.
- Langit-langit mulut.
- Sistem pernafasan.
- Koordinasi motorik yang diperlukan untuk menghasilkan bunyi bicara
Jika terdapat masalah pada struktur atau fungsi tertentu, produksi bunyi bicara dapat menjadi lebih sulit.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua anak yang mengalami speech delay memiliki kelainan pada struktur mulut.
Pada sebagian anak, struktur oral dapat terlihat normal, tetapi terdapat kesulitan tertentu dalam perencanaan atau koordinasi gerakan yang diperlukan untuk menghasilkan suara dan kata.
Karena penyebabnya dapat berbeda-beda, pemeriksaan profesional diperlukan untuk mengetahui apakah masalah komunikasi anak berkaitan dengan struktur atau fungsi oral, produksi bunyi bicara, perkembangan bahasa, atau faktor lainnya.
2. Faktor Perkembangan Otak, Neurologis, dan Kognitif
Kemampuan berbicara tidak hanya bergantung pada mulut dan lidah.
Otak memiliki peran yang sangat penting dalam proses komunikasi.
Ketika seseorang berbicara, terjadi proses yang sangat kompleks. Anak perlu menerima informasi, memberikan perhatian, memahami makna, mengingat informasi, memilih kata yang tepat, kemudian mengoordinasikan respons yang akan diberikan.
Karena itu, perkembangan otak dan sistem saraf memiliki hubungan erat dengan perkembangan kemampuan komunikasi.
Pada sebagian anak, keterlambatan bicara atau bahasa dapat muncul bersama kondisi perkembangan lainnya.
Misalnya, anak mungkin juga mengalami kesulitan dalam:
- Memahami instruksi.
- Mempertahankan perhatian.
- Belajar keterampilan baru.
- Berinteraksi dengan orang lain.
- Mengembangkan kemampuan bermain.
- Menggunakan komunikasi secara fungsional.
Namun, speech delay tidak otomatis berarti anak memiliki gangguan kecerdasan atau masalah pada otak.
Anak yang mengalami keterlambatan bicara dapat memiliki profil perkembangan yang sangat beragam.
Inilah alasan mengapa pemeriksaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada pertanyaan:
“Anak sudah bisa bicara berapa kata?”
Profesional juga perlu memperhatikan bagaimana anak:
- Memahami bahasa.
- Mengikuti instruksi.
- Merespons komunikasi.
- Menggunakan gestur.
- Meniru.
- Bermain.
- Berinteraksi dengan orang lain
- Menyampaikan kebutuhan.
- Mengembangkan keterampilan komunikasi lainnya
Pemeriksaan yang menyeluruh membantu menentukan kebutuhan stimulasi dan intervensi yang lebih sesuai untuk setiap anak.
3. Screen Time Berlebihan dan Berkurangnya Interaksi Dua Arah
Saat ini, gadget telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Anak dapat dengan mudah terpapar berbagai perangkat digital seperti:
- Smartphone.
- Tablet.
- Televisi.
- Komputer.
- Video daring.
- Permainan digital.
Media digital tidak selalu memberikan dampak yang sama pada setiap anak.
Dampaknya dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti usia anak, lamanya penggunaan, kualitas konten, konteks penggunaan, apakah anak menggunakan layar sendirian atau bersama orang tua, serta apakah penggunaan layar menggantikan aktivitas penting lainnya.
Penelitian sistematis dan meta-analisis menunjukkan bahwa jumlah penggunaan layar yang lebih tinggi berkaitan dengan kemampuan bahasa yang lebih rendah, sedangkan konten berkualitas dan penggunaan bersama orang tua atau co-viewing dapat memberikan pengalaman yang berbeda.[3]
Kebijakan terbaru American Academy of Pediatrics juga menekankan bahwa penggunaan media digital yang berat, terutama penggunaan sendiri dan konten non edukatif, berkaitan dengan keterlambatan pada beberapa area perkembangan, termasuk bahasa.[4]
Namun, penting untuk memahami bahwa:
Screen time tidak tepat disebut sebagai penyebab tunggal speech delay.
Hubungan antara screen time dan perkembangan bahasa bersifat kompleks.
Salah satu masalah yang dapat terjadi adalah ketika waktu di depan layar menggantikan kesempatan anak untuk melakukan interaksi langsung.
Padahal, anak belajar bahasa terutama melalui pengalaman komunikasi yang responsif dan dua arah.
Mengapa Interaksi Dua Arah Penting untuk Perkembangan Bicara?
Bayangkan seorang anak melihat seekor kucing.
Anak menunjuk dan berkata:
“Cing!”
Orang tua kemudian merespons:
“Iya, itu kucing. Kucingnya jalan.”
Dalam interaksi sederhana tersebut, anak memperoleh banyak pengalaman bahasa sekaligus.
Anak belajar bahwa benda yang dilihatnya memiliki nama.
Anak mendengar contoh pengucapan kata yang benar.
Anak juga memperoleh tambahan kosakata melalui kalimat yang diberikan orang tua.
Yang paling penting, anak belajar bahwa ketika ia mencoba berkomunikasi, orang lain akan memberikan respons.
Inilah yang disebut sebagai komunikasi dua arah.
Interaksi seperti ini sulit tergantikan sepenuhnya oleh layar.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan layar pada anak usia dini dapat berkaitan dengan berkurangnya percakapan orang tua-anak. Padahal, kesempatan mendengar dan terlibat dalam percakapan merupakan bagian penting dalam proses perkembangan bahasa.[3]
Karena itu, masalah utama bukan hanya pertanyaan:
“Berapa jam anak menonton gadget?”
Tetapi juga:
“Aktivitas penting apa yang tergantikan selama anak menggunakan gadget?”
Jika screen time menggantikan waktu untuk bermain bersama, membaca buku, berbicara, mengeksplorasi lingkungan, tidur, dan berinteraksi dengan keluarga, kesempatan anak untuk mendapatkan stimulasi perkembangan yang kaya dapat berkurang.
Tanda Speech Delay yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung membandingkan kemampuan anak dengan saudara, teman, atau anak lain yang seusia.
Namun, perkembangan komunikasi tetap perlu dipantau.
Beberapa tanda yang dapat menjadi alasan untuk melakukan konsultasi atau skrining perkembangan antara lain:
- Anak memiliki kosakata yang sangat terbatas dibandingkan tahapan perkembangan yang diharapkan.
- Anak kesulitan menyampaikan kebutuhan melalui komunikasi.
- Anak belum mampu menggabungkan kata sesuai tahapan perkembangannya.
- Ucapan anak sulit dipahami.
- Anak tampak kesulitan memahami instruksi sederhana.
- Anak jarang mencoba berkomunikasi menggunakan suara, kata, gestur, atau ekspresi.
- Anak tampak kurang memberikan respons terhadap komunikasi.
- Kemampuan bicara atau bahasa yang sebelumnya sudah dimiliki justru berkurang atau menghilang.
Jika orang tua melihat tanda-tanda tersebut atau memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan komunikasi anak, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional. Tidak perlu menunggu sampai keterlambatan terlihat semakin jauh.
Jangan Lupakan Faktor Pendengaran
Pendengaran memiliki peran penting dalam perkembangan bicara dan bahasa. Anak belajar bahasa dengan mendengar suara di lingkungan, memperhatikan cara orang berbicara, kemudian mencoba meniru dan menggunakan suara tersebut untuk berkomunikasi. Jika anak mengalami gangguan pendengaran, proses memperoleh informasi bahasa dapat ikut terpengaruh. Gangguan pendengaran juga tidak selalu berarti anak sama sekali tidak dapat mendengar. Ada kondisi ketika anak masih dapat merespons beberapa suara tetapi mengalami kesulitan mendengar suara tertentu secara optimal. Karena itu, evaluasi pendengaran dapat menjadi salah satu bagian penting dalam pemeriksaan anak dengan keterlambatan bicara dan bahasa apabila terdapat indikasi.[1]
Orang tua sebaiknya tidak hanya berasumsi:
“Anak saya pasti bisa mendengar karena kalau dipanggil kadang menoleh.”
Respons terhadap suara saja belum selalu cukup untuk menilai kemampuan pendengaran secara menyeluruh. Jika terdapat kekhawatiran, pemeriksaan oleh tenaga profesional merupakan langkah yang lebih tepat.
Bagaimana Terapi Wicara Membantu Anak dengan Speech Delay?
Terapi wicara merupakan salah satu bentuk intervensi yang dapat membantu anak dengan hambatan komunikasi, bicara, atau bahasa sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan individualnya.
Hal yang perlu dipahami adalah:
Program terapi setiap anak tidak selalu sama.
Seorang anak mungkin membutuhkan fokus pada kemampuan memahami bahasa. Anak lain mungkin membutuhkan stimulasi untuk meningkatkan penggunaan kata. Sementara anak lainnya mungkin membutuhkan intervensi yang berhubungan dengan produksi bunyi bicara atau komunikasi fungsional. Karena itu, terapi sebaiknya diawali dengan asesmen atau pemeriksaan kemampuan anak. Dari hasil asesmen tersebut, terapis dapat menentukan target intervensi yang lebih sesuai.
1. Membantu Meningkatkan Pemahaman Bahasa
Kemampuan memahami bahasa merupakan fondasi penting dalam komunikasi. Anak perlu belajar memahami bahwa kata memiliki makna
Misalnya:
“Bola.”
“Makan.”
“Minum.”
“Duduk.”
“Ambil.”
“Buka.”
Secara bertahap, anak juga belajar memahami instruksi yang lebih kompleks sesuai tahapan perkembangannya. Terapi dapat membantu menstimulasi kemampuan bahasa reseptif melalui aktivitas yang disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
2. Membantu Anak Mengekspresikan Keinginan
Sebagian anak memahami apa yang dikatakan orang lain tetapi kesulitan menyampaikan apa yang diinginkannya. Misalnya, ketika ingin minum, anak hanya menangis atau menarik tangan orang tua. Dalam terapi, anak dapat dibantu mengembangkan komunikasi secara bertahap sesuai kemampuannya.
Perkembangan tersebut dapat dimulai dari:
Gestur → suara → kata → gabungan kata → kalimat.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak menghafal banyak kata, tetapi membantu anak menggunakan komunikasi secara bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
3. Membantu Produksi Bunyi Bicara
Pada sebagian anak, masalah utama bukan jumlah kosakata tetapi bagaimana bunyi bicara diproduksi. Ucapan anak mungkin sulit dipahami atau terdapat bunyi tertentu yang sulit dihasilkan. Dalam kondisi tersebut, terapis perlu melakukan penilaian untuk mengetahui pola kesulitan yang dialami anak. Program terapi kemudian disusun sesuai hasil pemeriksaan, usia, dan kebutuhan komunikasi anak.
4. Mengembangkan Komunikasi Fungsional
Tujuan komunikasi bukan hanya agar anak mampu menyebutkan nama benda. Komunikasi memiliki banyak fungsi.
Anak perlu belajar menggunakan komunikasi untuk:
- Meminta.
- Menolak.
- Memilih.
- Menjawab.
- Bertanya.
- Permainan digital.
- Meminta bantuan.
- Berbagi perhatian.
- Menyampaikan perasaan.
- Berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, terapi wicara sebaiknya membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Membantu Orang Tua Melakukan Stimulasi di Rumah
Keberhasilan stimulasi perkembangan anak tidak hanya bergantung pada sesi terapi. Orang tua dan keluarga memiliki peran yang sangat penting. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama keluarga. Karena itu, aktivitas sehari-hari sebenarnya dapat menjadi kesempatan stimulasi bahasa yang sangat baik. Terapis dapat membantu memberikan edukasi dan strategi kepada orang tua agar stimulasi dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah.
Cara Menstimulasi Anak Speech Delay di Rumah
Stimulasi bahasa tidak harus dilakukan dengan cara belajar formal. Aktivitas sehari-hari justru dapat menjadi kesempatan terbaik untuk membangun komunikasi. Berikut beberapa strategi sederhana yang dapat dilakukan orang tua.
1. Ikuti Minat Anak
Jika anak sedang tertarik pada mobil-mobilan, gunakan aktivitas tersebut untuk memberikan stimulasi bahasa.
Misalnya:
- “Mobil.”
- “Mobil merah.”
- “Mobil jalan.”
- “Mobil masuk.”
Anak akan lebih mudah terlibat ketika komunikasi berkaitan dengan sesuatu yang sedang menarik perhatiannya.
2. Gunakan Kalimat Sederhana
Gunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan anak. Jika anak baru mulai menggunakan satu kata, orang tua dapat memberikan model dua atau tiga kata sederhana.
Misalnya anak berkata:
“Bola.”
Orang tua dapat merespons:
“Iya, bola merah.”
atau:
“Bola jatuh.”
3. Berikan Waktu untuk Merespons
Setelah berbicara atau memberikan pertanyaan sederhana, jangan langsung menjawab sendiri. Berikan anak waktu untuk memproses informasi dan mencoba memberikan respons. Respons tidak selalu harus berupa kata. Tatapan, gestur, menunjuk, atau suara juga dapat menjadi bagian dari proses komunikasi.
4. Bacakan Buku Bergambar
Membaca buku bersama merupakan aktivitas yang sangat baik untuk memperkenalkan kosakata. Tidak harus membaca seluruh tulisan dalam buku.
Orang tua dapat menunjuk gambar sambil mengatakan:
“Ini kucing.”
“Kucing tidur.”
“Mana bolanya?”
Buat kegiatan membaca menjadi interaktif dan menyenangkan.
5. Perluas Ucapan Anak
Jika anak mengatakan:
“Mobil.”
Orang tua dapat mengatakan:
“Iya, mobil biru.”
Jika anak mengatakan:
“Mau susu.”
Orang tua dapat merespons:
“Adik mau minum susu.”
Teknik ini membantu memberikan contoh bahasa yang sedikit lebih lengkap tanpa membuat anak merasa sedang diuji.
Kapan Anak Sebaiknya Dibawa untuk Pemeriksaan?
Orang tua tidak harus menunggu sampai anak “benar-benar tidak bisa bicara” untuk melakukan konsultasi. Pemeriksaan dapat dipertimbangkan ketika orang tua memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan komunikasi anak. Tujuan pemeriksaan dini bukan untuk memberikan label kepada anak.
Pemeriksaan bertujuan mengetahui:
- Kemampuan yang sudah dimiliki anak.
- Area yang masih membutuhkan stimulasi.
- Faktor yang mungkin berhubungan dengan keterlambatan.
- Apakah diperlukan pemeriksaan tambahan.
- Jenis stimulasi atau intervensi yang sesuai.
Semakin dini kebutuhan perkembangan anak dikenali, semakin dini pula dukungan yang sesuai dapat diberikan.
Ada Pertanyaan tentang artikel diatas?
Jika ada bagian dari artikel diatas yang kurang jelas, tim Okiro siap membantu menjelaskan.
Hubungi kami